Thursday, September 29, 2011

Atresia Biller

A. Definisi
     Atresia Biller adalah suatu kondisi dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal
     Fungsi dari sistem empedu adalah membuang limbah metabolik dari hati dan mengangkut garam empedu yang diperlukan untuk mencerna lemak didalam usus halus.
     Pada atresia biller terjadi penyumbatan aliran empedu dari hati ke kandung empedu. Hal ini bisa menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati, yang jika tidak diobati bisa berakibat fatal.

B. Penyebab
     Atresia biller terjadi karena adanya perkembangan abnormal dari saluran empedu didalam maupun diluar  hati. Tetapi penyebab terjadinya gangguan perkembangan saluran empedu ini tidak diketahui.
    Atresia biller ini ditemukan pada 1 dari 15.000 kelahiran.

C. Manifestasi klinis
      biasanya timbul dalam waktu 2 minggu setelah lahir, yaitu berupa:
  • air kemih yang berwarna gelap
  • tinja berwarna pucat
  • kulit berwarna kuning
  • berat badan tidak bertambah atau penambahan berat badan berlangsung lambat
  • hati membesar.
      Pada saat usia bayi mencapai 2-3 tahun bulan, akan timbul gejala berikut :
       - gangguan pada pertumbuhan
       - mengalami gatal-gatal
       - rewel
      - tekanan darah tinggi pada vena porta 
         (pembuluh darah yang mengangkut darah dari lambung, usus, dan limpa ke hati)

D. Diagnosa
     Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
     Pada pemeriksaan perut, hati teraba membesar.

     Pemeriksaan yang biasa dilakukan :
  • Pemeriksaan darah terdapat peningkatan kadar bilirubin
  • USG perut
  • Rontgen perut (tampak hati membesar)
  • Kolangiogram
  • Biopsi hati
  • Laparotomi (biasanya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan).
E. Pengobatan 
   Prosedur yang terbaik adalah mengganti saluran empedu yang mengalirkan empedu ke usus. Tetapi prosedur ini hanya mungkin dilakukan pada 5-10% penderita.

Untuk mengobati atresia biller dan langsung menghubungkan hati dengan usus halus, dilakukan pembedahan yang disebut prosedur Kasai.
Pembedahan akan berhasil jika dilakukan sebelum bayi berusia 8 minggu.
Biasanya pembedahan ini hanya merupakan pengobatan sementara dan pada akhirnya perlu dilakukan pencangkokan hati.




Wednesday, September 28, 2011

KONSEP ASEPSIS dan INFEKSI

A. INFEKSI
Infeksi adalah berkembangnya penyakit pada hospes disertai timbulnya respon imunologik dengan gejala klinik atau tanpa gejala klinik

Cara penularan infeksi :
  1. Kontak : langsung, tidak langsung, droplet
  2. udara : debu, kulit lepas
  3. alat : darah, makanan, cairan intravena
  4. vektor /serangga : nyamuk, lalat
Prinsip pencegahan infeksi :
suatu usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya resiko penularan infeksi mikro organisme dari lingkungan klien dan tenaga kesehatan (Nakes)

Tujuan :
1. mengurangi terjadinya infeksi
2. memberikan perlindungan terhadap klien

Komponen proses terjadinya penyakit :
1. Reservoir
2. Penyebab penyakit
3. Jalan masuk
4. Cara keluarnya penyebab penyakit dari host

Tindakan pencegahan penyakit :
  • cuci tangan
  • memakai sarung tangan (handscone)
  • memakai perlengkapan pelindung
  • menggunakan tehnik aseptik
  • memproses alat bekas pakai
  • menangani peralatan tajam dengan aman
  • menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan serta pembuangan sampah secara benar.
Cuci tangan merupakan hal yang sangat penting. Ada 2 kategori organisme yang ada di dalam mikroorganisme :
  1. Organisme residen (Flora normal)
  2. Organisme transien, karena kontak ex: Escherichia coli (mudah dihilangkan dengan cuci tangan efektif
Mengapa kita perlu mencuci tangan :
  • Penanganan pasien dengan kontak tangan
  • Kontaminasi flora normal pasien kontak perubahan flora normal patogen
Apa yang harus digunakan untuk mencuci tangan :
1. Dekontaminasi tangan rutin dengan sabun dan air mengalir
2. Desinfeksi kulit (hibiscrub, handy clean)

Kapan kita mencuci tangan yang sbaiknya adalah:
- sebelum dan sesudah melakukan tindakan 
- setelah kontak dengan cairan tubuh
- setelah memegang alat yang terkontaminasi (jarum, cucian)
- sebelum dan sesudah kontak dengan pasien di ruang isolasi
- setelah menggunakan kamar mandi
- sebelum melayani makan dan minum
- pada saat akan tugas dan akhir tugas

Dan sesudah melakukan cuci tangan dengan baik, kita juga harus melindungi diri saat mengkaji kesehatan klien. Lalu apa sajakah pelindung diri itu  :
  1. pemakaian sarung tangan
  2. pemakaian masker
  3. pemakaian gaun
  4. pemakaian kacamata pelindung
  5. pemakaian sepatu tertutup
  6. Kap
  7. duk steril
B. ASEPSIS DAN TEHNIK ASEPTIK
Upaya yang digunakan untuk menggambarkan upaya kombinasi untuk mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam area tubuh manapun yang sering menyebabkan infeksi.
Tujuan dari tehnik ini untuk membasmi jumlah mikroorganisme pada permukaan hidung (kulit dan jaringan) obyek mati (alat-alat bedah dan barang-barang lainnya)

1. Anti sepsis adalah proses menurunkan jumlah mikroorganisme pada kulit, selaput lendir/ jaringan tubuh langsung dengan menggunakan bahan antimikrobial antiseptik.

Kriteria pemilihan antiseptik :
  1. Aksi yang luas (menghambat mikroorganisme secara luas (gram positif, negatif, Tb, Fungi, Endospora)
  2. Efektivitas
  3. Kecepatan aktivitas awal
  4. Efek residu : aksi yang lama setelah pemakaian untuk merendam pertumbuhan kuman
  5. Tidak mengakibatkan alergi
  6. Efektif sekali pakai, tidak perlu diulang.
Contoh antiseptik : 
  • alkohol (60%-90%),
  • setrimd / klorheksidin glukonat (2%-4%) ex: hibiscrub, hibitane 
  • klorheksidin glukonat 2% ect..
Mikroorganisme adalah agen penyebab infeksi termasuk bakteri, virus, fungi, parasit
pencegahan infeksi bakteri dibagi 3 yaitu :
1. Vegetatif
2. Mikobakteria ex: tuberkolosis
3. Endospora (sulit dibunuh disebabkan lapisan pelindungnya)

2. Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme pada benda mati/ instrumen dengan cara uap air panas, tekanan tinggi (otoklaf), panas kering (oven), sterilan kimia atau radiasi.

3. Densifektan tingkat tinggi (DTT)
    tindakan untuk menghilangkan semua mikroorganisme kecuali endospora bakteri pada benda mati dengan      cara merebus dan mengukus penggunaan densifektan kimiawi.
Desinfektan : bahan kimia yang membunuh/ menginaktivasi mikroorganisme
    ex: - klorin pemutih 0,5 % untuk dikontaminasi permukaan yang lebar
         - klorin 0,1% untuk DTT kimia
         - Glutaraldehida 2% bisa digunakan DTT kimia/ sterilisasi kimia
         - Fenol / klorin

4. Dekontaminasi 
    membuat obyek mati lebih aman ditangani saat sebelum dibersihkan (menginaktifasi) serta menurunkan HBV.

5. Dekomentanasi
    direndam dalam bahan klorin selama 10 menit 0,5%